Mimpiii adalah kunci,,,,,, yang tak kan prnah hilang oleh waktu,,,,,,
Untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi adalah salah satu impianku. setiap orang pasti memiliki keinginan yang sama denganku. Pertamakali mendengar kata Bidik Misi aku langsung bersemangat untuk mendapat informasi selengkap- lengkapnya. Pada pertengahan kelas 3 MAN saya sudah sibuk dengan mencari – cari informasi, baik itu dari guru BK, kakak kelas dan juga teman – temanku sendiri sedangkan teman – temanku yang lain pada bersantai - santai. Perjalananku untuk bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri dan mendapatkan beasiswapun tidak mudah semudah membalikkan kedua telapak tangan, dengan banyak proses dan banyak pula kegagalan, Akan tetapi aku tidak pernah berputus asa. Sedikit putus asa itu muncul dalam hati, aku mencoba untuk tidak membiarkan hal itu bersemayam berlarut – larut.
Setelah lama mencari – cari informasi tibalah saat pendaftaran SNMPTN Undangan dibuka. Akupun tidak ketinggalan untuk mencoba mendaftar. Akupun disibukkan dengan mengumpulkan berbagai berkas dari raport, piagam, dan lain- lain. Dari teman – temanku yang ikut mendaftar SNMPTN Undangan pun tidak sedikit yang tersebar di berbagai Universitas – Universitas Negeri di Indonesia yaitu UNESA, UIN MALIKI Malang, UNIBRAW, UM, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Trunojoyo, IPB, UIN SUKA Yogyakarta dll. Aku termasuk pendaftar satu – satunya yang mendaftar di UIN Suka Yogyakarta. Akan tetapi itu bukan berarti aku memiliki kesempatan besar untuk bisa lolos di Perguruan Tinggi tersebut. Sempat terfikir di benakku bahwa aku pasti lolos di UIN Yogyakarta dengan beasiswa Bidik Misi, karena aku hanya satu - satunya pendaftar dari asal SMAku. Tidak pernah henti – hentinya doa selalu kupanjatkan kepada sang kuasa. Tak lupa orang tuapun selalu mendoakanku .
Setelah hampir 2 bulan dalam penantian penyeleksian berkas – berkas yang sudah dikirim, tibalah pengumuman di website – website dimunculkan. Pada hari itu hanya satu yang aku harapkan yaitu namaku tercatat dan terpampang di pengumuman tersebut. Akan tetapi, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan dugaan dan keinginan yang aku harapkan selama berbulan – bulan menunggu. Pada saat itu rasanya sedih sekali hati ini. Teman – temanku yang mendaftar di Universitas – universitas lain pada keterima. Sedangkan aku, kenapa bisa – bisanya tidak lolos?? Pernyataan itulah yang sering aku ucapkan.
Disisi lain, aku mencoba untuk berfikir bahwa hasil itu mungkin lebih baik untukku dan aku beharap bisa mendapat pengganti yang lebih dari itu. Dengan begitu aku bisa belajar untuk ikhlas dengan keputusan dan hasil yang ada.
Perjuanganku tidak berhenti sampai di tengah titik kegagalan. Aku terus mencoba untuk mencari dan bertanya kepada sang guru motivatorku (yang selalu memberikan semangat untuk kesuksesan para murid- muridnya). Setelah beminggu – minggu mendatangi ruang BK (Bimbingan Konseling) , akhirnya terjawab juga. Informasi terbarunya yaitu bahwa ada satu Perguruan Tinggi Negeri yang membuka beasiswa Bidik Misi jalur tulis dan PTN tersebut memang tidak mengadakan jalur undangan. PTN tersebut yakni UNAIR (Universitas Airlangga) di Surabaya dan lumayan besar kuota yang dibuka untuk beasiswa Bidik Misinya. Begitu juga yang berminat pasti tidak sedikit.
SNMPTN Jalur Tulis di seluruh Indonesia telah dibuka, termasuk UNAIR didalamnya. Tidak sedikit dari teman – temanku dari satu sekolahan yang memiliki nasib sama untuk mendaftar di UNAIR. Sekitar 15 anak termasuk juga aku yang mencoba lagi untuk bisa melanjutkan sekolah dengan mendaftar ke Perguruan Tinggi tersebut dengan prodi yang berbeda – beda tentunya. Dengan hati yang penuh dengan keyakinan serta usaha dan doa adalah salah satu prinsip yang aku tanamkan. Aku tidak pernah berputus asa dengan kegagalan yang pada nantinya akan membawa kepada kesuksesan yang haqiqi. Setelah tes berlangsung di seluruh Indonesia dengan serempak selama 2 – 3 hari , yang selalu aku nanti – nanti dan berharap mendapat kabar yang menggembirakan yaitu hari dimana hasil tes yang berlangsung selama 3 hari itu di umumkan. Aku selalu menunggu dengan tidak sabar dan doapun tidak pernah henti – hentinya aku panjatkan.
Pengumuman hasil SNMPTN Tulis akan diumumkan seminggu lagi, dan aku mendapat kabar dari salah satu guruku yaitu aku dapat panggilan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk mengikuti tes Reguler 1. Saat itu aku merasa senang karena aku akan mendapatkan kesempatan satu kali lagi jika memang di UNAIR tersebut belum menjadi takdirku. Akan tetapi bukan berarti aku berharap untuk tidak lolos di UNAIR. Di Universitas manapun aku keterima, aku akan belajar dengan sungguh – sungguh dan konsentrasi dengan program studi yang aku pilih, itu adalah janjiku. Jadi sejauh apapun tempatnya aku akan tetap semangat untuk belajar dan mencari ilmu yang bermanfaat ….
Setelah seminggu berlalu kini tibalah saat yang dinanti – nanti , hati rasanya deg –degan untuk mengetahui hasil pengumuman . hemmmmm,,, ternyata keberuntungan belum bisa berpihak kepadaku. Yaaa benar sekali aku tidak lolos tes tulis di UNAIR. Hanya 2 anak dari 15 pendaftar dari sekolahku yang lolos. Alkhamdulillah ,, ternyata masih ada yang lolos untuk membawa nama baik almamater sekolah. Setelah tahu bahwa aku tidak lolos, aku langsung siap –siap untuk go to Jogja karena selang 2 hari setelah pengumuman SNMPTN Tulis akan ada tes reguler 1 . dengan perjalanan jauh yang menghabiskan waktu selama 9 – 10 jam, aku harus sampai jogja sebelum tes itu berlansung. Dengan bermodal keberanian dan nekat berangkat ke jogja bersama kakak perempuanku yang sebelumnya tidak pernah ke jogja dengan naik bus 3 kali akhirnya sampai juga dengan selamat (alkhamdulillah).
Besok adalah tes reguler 1 akan berlangsung di UIN Sunan Kalijaga, sedangkan aku belum belajar sama sekali, bimtes uin pun tidak ikut karena tempat yang susah untuk dijangkau. Pada akhirnya ada beberapa orang yang pada sekitar ba’da maghrib datang ke kos belajar bersama untuk tes besok, akupun ikut belajar dan yang tidak pernah aku lupakan buku bimtes nya aku pinjam untuk belajar. Sehingga pas waktu tes soal – soal dari bimtes yang aku pelajari pada keluar dan aku sedikit terbantu. Pengen sekali aku mengucapkan terima kasih padanya. Tetapi sayangnya aku lupa dengan orang itu, entah tidak lolos tes atau bagaimana tidak tahu keberadaannya. Aku berharap dia juga lolos tes reguler 1 tersebut. Aku akan merasa bersalah jika dia tidak lolos karena bukunya aku bawa sehingga dia tidak belajar.
Seminggu setelah tes berlangsung, hasil dari tes reguler 1 akan diumumkan. Rasa deg – degan pun tidak pernah ketinggalan menemani hatiku. Lagi – lagi dengan penuh keyakinan dan doa tetap terpatri dalam jiwaku. Kali ini aku yakin sepenuh hati aku pasti lolos. Dengan keyakinan itu tidak aku jadikan sebagai rasa sombong, akan tetapi sebagai penyemangat dan doa. Hingga akhirnya pengumuman aku buka dan tidak sia – sia perjuanganku 2 kali gagal, aku lolos dan tertulis namaku di nomor urut yang ke 3 dari prodi “Ilmu Perpustakaan dan Informasi”. Rasanya senang sekali bisa lolos tes reguler 1 dan bisa masuk UIN Sunan Kalijaga. Akan tetapi, ternyata tidak sampai disini perjuanganku kali ini. Untuk bisa masuk menjadi mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi di UIN pun menunggu keputusan dan kepastian berbulan- bulan lamanya. Teman – teman seangkatan yang di Universitas lain sudah pada kuliyah, sedangkan aku menunggu kejelasan yang tak kunjung datang. Dari berbagai media dan informasi aku kunjungi untuk menanyakan tentang keberadaan beasiswa bidik misi, akan tetapi tidak pernah membuahkan hasil yang memuaskan. Dari sebelum bulan Ramadhan , aku menelepon pihak UIN dan jawabannya tidak pernah memberikan kejelasan yang pasti dan jawaban yang diberikan selalu berbeda dengan hari – hari yang telah berlalu. Sehingga itu membuat aku kesal dengan kebijakan yang ada di UIN. Dari berbagai diskusi dan pertanyaan yang aku ajukan di facebook resmi Bidik Misi, akhirnya aku menemukan teman – teman seperjuangan dan sepenanggungan yang mendaftar di UIN Sunan Kalijaga. Mereka adalah (Miftah, Fajri, Zulfa, Mar’ah, Aam, Ahmad, Rindho, Wahyu, Irfan). Mereka semua adalah teman – temanku terhebat yang tak pernah aku lupakan hingga aku kembali ke kampung halaman nantinya. Setiap hari kita semua bersepuluh saling memberi informasi satu sama lain. Yang rumahnya dekat dengan kampus dengan ikhlasnya mereka datang menemui petugas UIN langsung dan bertatap muka untuk bertanya tentang kejelasan nasib kita semua, meskipun mereka tidak pernah mendapat kejelasan dan hanya kemarahan , bentakan yang didapat. Dan itu tidak hanya berlangsung 1 atau 2 kali , tetapi berkali – kali. Yang rumahnya jauh dari Yogya seperti aku, hanya bisa bertanya lewat telepon ke pihak UIN karena mengingat transport dan tempat tinggal juga, dan itu hasilnya pun tidak jauh berbeda dengan jawaban yang didapat dari teman – teman sebelumnya. Satu kalimat yang aku ingat “ tunggu visitasi”. Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya yaitu
“ kapan visitasi itu dilaksanakan???” . tidak pernah terjawab dengan pasti.
Pada akhirnya salah satu dari teman- temanku tersebut ada yang di visitasi,yang pertama kali yaitu rumahnya daerah Jawa Timur bagian barat, setelah lama aku menunggu, karena visitasi blum sampai rumah orang tuaku. Sehingga muncul prasangka “apakah aku tidak lolos Bidik Misi?”. Satu per satu dari teman – teman sudah divisitasi. Kini aku menunggu
Tiba saatnya untuk sampai di rumah orang tuaku.
Setelah menunggu lama, akhirnya 2 hari setelah Idul Fitri. Sang visitor yang aku tunggu – tunggu datang juga. Rasaya telah lepas beban yang satu itu. Pada akhirnya aku berfikir , tinggal menunggu pengumuman. Akan tetapi kesabaran lagi – lagi di uji. Setelah 5 hari Bpk Fatihul Ikhsan (sang visitor) di rumahku kembali ke Jogja, mengirimkan satu pesan yang berisi
“ assalamu’alaikum, maaf mbk Lilik Faizatul Mu’arofah karena data gambar rumah yang saya ambil beberapa hari yang lalu telah hilang, maka dengan segera supaya mengirimkan gambar foto rumah dari sisi depan, samping kanan- kiri dan belakang serta dapur , ruang tamu ke email saya dengan memakai kamera digital, secepatnya. Karena besok akan saya serahkan ke Rektorat. Terima kasih.”
Setelah mendapatkan satu pesan singkat tersebut, ingin sekali rasanya aku lari sejauh dan sekencang – kencangnya.
Akupun berusaha satu hari itu untuk mencari satu benda “kamera digital” dan hasilnya nihil. Setelah tawar menawar dengan bpk Fatih, akhirnya pk Fatih memutuskan untuk menyuruh orang yang kebetulan masih saudaranya untuk datang mengambil gambar di rumah orang tuaku.” Alkhamdulillah” ,, masalah satu persatu bisa terselesaikan.
Sebelum hasil keputusan para rektorat diumumkan secara resmi, satu persatu dari teman- temanku yang kesepuluh tersebut sudah pada tahu kalau mereka lolos. Sedangkan aku belum tahu kayak gimana hasilnya.
Dan pengumuman Bidik Misi akan diumumkan setelah jam 10.00 WIB, aku tidak sabar untuk menunggu hasilnya. Setelah jam 10.00 aku buka website UIN mengenai pengumuman Bidik Misi. Dari atas sampai bawa aku cari – cari namaku dan tidak ada yang namanya Lilik Faizatul Mu’arofah,. Aku fokuskan ke prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi tidak ada namaku. Hanya satu nama yang tecatat di prodi tersebut. Setelah berulang ulang aku melihatnya , ternyata namaku terpampang di prodi Pendidikan Matematika. Satu masalah lagi datang menghampiriku ..(Astaghfirullah) . aku pun tidak lupa dengan teman- teman baruku untuk memberi tahu mereka. Rencana Allah memang benar- benar indah, salah satu dari temanku yang sudah masuk dan mulai kuliyah pun ikut membantu meluruskan prodi yang aku ambil, akhirnya aku bisa kembali belajar di Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, bukan di Pendidikan Matematika. Terima kasih untuk teman – temanku semua.
Semua yang kita usahakan tidak akan pernah sia – sia dan mudah – mudahan Ridho Allah selalu menyertai kita. Mari kita berjuang untuk memperbaiki Bangsa kita. Ingat tanggungjawab kita terhadap Negara karena kita semua bisa belajar sampai sekarang ini. Tetap semangat untuk menuntut ilmu, aku menanti dan berharap mendapatkan Beasiswa S2 ke Luar Negeri yakni Mc Gill University of Canada.
Dengan keyakinan, akan muncul Ghirah yang luar biasa,,,,
dan dengan Ghirah akan membawa kita pada kesuksesan.,,,,
don’t forget to pray,,,
Yogyakarta, 2012
Yogyakarta, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar